11 cara menjadi menantu idaman

Category:

Penyelewengan dan tidak setia, justru datangnya seringkali setelah pernikahan berlangsung. Padahal sebelumnya, yakni semasa pacaran, bukan main idealnya. Nah, ternyata kendala perkawinan bukan saja soal kesetiaan, tetapi masih banyak lagi yang harus di perhitungkan  yakni bagaimana mempersiapkan diri menjadi menantu yang baik. Sebab dari menantu yang baik, bukan saja masalah penyelewengan terhindar, tetapi masalah lainpun bisa dihindarkan. Sebelas cara memang belum mengungkap tuntas semuanya, namun setidaknya bisa menjadi acuan sederhana sebagai "bekal", agar persiapan perkawina lebih handal.

BERIMAN
Dengan dasar yang satu ini, otomatis prilaku prilaku keseharian bisa terkendali, dan dimata calon mertua mendapat nilai tambah, asalkan yang dilakukan dengan ketulusan terutama soal ibadah. Maka kalau mau masuk kedalam keluarga yang patuh beragama, siap-siaplah untuk menyatu dengan tulus.




BERETIKA
Sudah pasti, masalah etika tidak boleh diabaikan begitu saja, bukan saja dalam lingkungan keluarga sendiri, teman sekolah, rekan kerja dan lain sebagainya, akan tetapi harus lebih diperhatikan manakala hendak memasuki rumah calon mertua. Musalnya, jangan sekali-kali hanya bicara terus-menerus dengan pacar, apalagi nempel terus selama berada dirumah camer, sementara dengan lainnya cuma sekedarnya saja. Etika besar pengaruhnya terhadap cara pandang dan calon mertua menilai calon menantunya.

PENDENGAR YANG BAIK
Sebagi peringkat "yunior" dalam keluarga, dan umumnya sebagai calon menantu banyak yang ikut "nimbrung" menilai siapa kita, maka tempatkanlah diri anda ke posisi paling yunior. Ini penting, sebaba anda akan mendapat banyak masukan, juga pesan-pesan dari para pini sepuh pihak calon mertua, apakah tantenya, pamannya, juga kakek neneknya. Mereka pasti berceloteh, apakah langsung ataupun tidak, untuk mengomentari anda dari berbagai segi. Kadang menyenangkan dan jangan kaget kalau kadang menyakitkan. Mendengar lebih baik dari bicara, dan menjadi pendengar yang baik kadang jauh lebih sulit dibanding bicara. Maka anda harus belajar sejak dini, jika ingin dicintai keluarga tentunya.

BERPIKIR POSITIF
Banyak calon menantu yang kesulitan masuk kerumah calon mertua, khususnya wanita. Alasannya macam-macam, yang cerewetlah atau terlalu banyak tanya macam-macam. Ini bisa saja terjadi jika si gadis hanya berpikir praktis, dan seenaknya sendiri. Perasaan serba salah justru membuatnya salah tingkah. Bahkan akan lebih parah, kalau semua ungkapan, obrolan dan pendapat calon mertua semuanya dianggap negatif. Padahal sesungguhnya sedang terjadi "proses penilaian", seperti apakah kualitas calon menantu yang bakal mengurus dan  mendampingi anak laki-lakinya. Tentu saja secara naluri seseorang akan banyak menilai, memperhitungkan, mendengar, dan bertanya sehingga labih mendalami karakter calon menantunya kelak. Jadi wajar kalau hal ini terjadi. Seharusnya semakin banyak ditanya justru semakin bahagia, karena begaimanapun berarti diperhatikan.Demikian juga kalau diatur penampilannya jangan ditentang, tetapi tampunglah lalu cerna sebelum dibuang atau diterapkan. Cobalah pahami bahwa semua itu untuk kepentingan anda juga, disamping untuk menyenangkan hati calon suami anda, yang tak lain anak laki-laki yang dicintainya.

HEMAT
Pacaran memang saatnya untuk bersenang-senang, tetapi bukan berarti menghambur-hamburkan uang. Cpbalah mengatur pengeluaran untuk rekreasi, kalau bisa dikurangi mengapa tidak dicoba?. Hemat tidak berarti pelit, justru dengan berhemat kesempatan menabung dalam rangka memepersiapkan perkawinan. Mungkin calon mertua akan makain sayang kepada anda. Setidaknya menilai "belum menikah sudah hemat, apalagi nanti".

ATENSI YANG TINGGI
Menikah berarti mempersatukan dua keluarga menjadi satu ikatan erat, sehingga keluarga akan lebih besar lagi. Ini sama artinya kesempatan untuk memperhatikan orang lain yang lebih banyak harus diperhatikan. Jangan hanya memperhatikan pacar saja, Cobalah berikan atensi kepada semua orang, baik saudara kandung, orang tua maupun kemenakannya. Atensi tidak selamanya mahal, asalkan pandai mengatur keuangan, dipadu kemampuan memilih benda sebagai atensi sangat mempengaruhi kiat ini. Dan ingat, atensi bukan saja dalam aspek materi, tetapi yang utama adalah perhatian, tutur sapa, juga kesopanan. Misalnya saja kapan ortu pacar ultah dan sebagainya, termasuk ulang tahun perkawinan mereka. hal-hal kecil yang nampaknya tak berpengaruh itu, kalau anda mempu menghidupkannya dalam keluarga, Saya yakin anda bisa menjadi "kunci" sukses menjadi menantu yang baik kelak.

JANGAN MENGATUR
Bagaimanapun koleksi, maupun tatanan rumah camer, jangan sekali-kali nimbrung untuk ikut mengatur. Kecuali kalau diminta pendapat. Ingat kalaupun anda seorang interior disain, atau apapun namanya, selama masih calon menantu, jangan sekali-kali proaktif mengatur rumah. Ini bisa menyinggung perasaan, bahkan bisa dibilang anda menantu yang "kemajon" (terlalu ikut campur), alias sok tahu. Maka kalaupun tatanan itu salah, biarkanlah, anda cukup melihat, dan menilai, tanpa komentar.

BERILMU
Apapun latar belakang pendidikan formal anda, masalah ilmu sangat penting dalam pergaulan, termasuk bergaul dengancalon mertua. Ilmu yang paling sederhana dipelajari yakni komunikasi. Cobalah berkomunikasi dengan semua orang, dengan memakai bahasa yang baik dan benar. Ilmu lainnya yang tak kalah pentingnya yaitu manajemen waktu, misalnya kapan anda harus kerja, santai termasuk bertandang kerumah pacar. Jangan sekali-kali karena senang dan tidak ditegur, maka anda berlama-lama sampai "lupa waktu". Cara ini kurang menguntungkan anda karena dinilai tidak sopan dan tidak pandai membagi waktu. Kecantikan tidak prima jika tanpa didukung ilmu yang melatar belakanginya.

DEMONSTRATIF
Prilaku demonstratif didepan mertua sebaiknya dihindarkan, begitu juga dihadapan keluarga lainnya. Bersikaplah biasa-biasa saja, toh mereka semua sudah tahu kalau anda sedang jatuh cinta. Hilangkan kesan bahwa "dunia selebar daun kelor/ dunia milik berdua" barang sejenak, dan bisa anda dapatkan saat menonton dibioskop misalnya. Kemampuan menahan diri, nilainya tinggi, karena bukan saja menyangkut etika, tetapi juga moral.

SETIA
Kesetiaan harus ditanamkan sejak dini, sehingga niat untuk berbuat penyimpangan bisa dihindarkan. Cobalah untuk terbuka dalam berkomunikasi, sehingga tak ada ganjalan, dan salah paham yang berbuntut ketidak percayaan, kecemburuan berlebih, dan tidak setia. Untuk menjadi setia perlu kesabaran, mengalah dan bersedia berkomunikasi secara terbuka, gamblang, jelas dan dewasa. Nah kalau anda pasangan setia pasti mertua akan ikut bangga pada anda.



TULUS
Apapun yang dilakukan selamanya harus dilandasi keihklasan. Jangan paksakan membantusesuatu kalau terpaksa., apalagi untuk cari muka didepan mertua. Sebab cara ini lambat laum pasti ketahuan juga. Orang tua yang sudah berpengalaman pasti paham mana yang tulus dan mana yang basa-basi. Nah untuk menghindarinya sebelum anda disuruh datang ke rumah calon mertua misalnya, sebaiknya katakan terus terang mengapa anda keberatan, tentunya dengan alasan yang benar. Untuk membayarnya, lain kali bisa datang dengan kegiatan lain yang menyenangkan calon mertua anda. Tanpa perlu diutarakan sehingga menjadi kejutan bagi calon mertua. Orang tua senang disayang dan diperhatikan, tetapi sangat sensitif sehingga tahu persis mana yang tulus dan mana yang pura-pura (pamrih).
Perkawinan itu anugrah, maka  dalam mempersiapkannya juga bermula dari niat yang baik, ditambah dengan upaya yang terus menerus, sehingga anda semakin baik. Sebab bagaimanapun menikah itu perlu menyesuaikan diri, karena awalnya memang bukan siapa-siapa tetapi orang lain. Dengan 11 cara ini semoga bisa menjadi pedoman yang bermanfaat. 
(hasil survey)

Comments (0)

Poskan Komentar